Pages

Kumpulan Contoh Puisi Cinta Romantis

Kumpulan Puisi Cinta Galau, Kata Bijak Mutiara, Puisi Guru, Alam, lingkungan sekolah, hidup dalam bahasa inggris

Contoh Puisi Kehidupan : Kritik Sosial Masyarakat

Puisi Kehidupan ~ Adagium Jhon F. Kennedy yang sangat fenomenal dalam dunia kesusastraan ialah “ Jika politik bengkok maka puisi yang meluruskan”. Artinya ketika politik digunakan untuk kepentingan kelompok-kelopok kecil ataupun pelaku politik secara pribadi, yang di dalamnya terdapat intrik-intrik yang tidak sehat dengan maksud untuk meraup keuntungan yang besar, dan tentunya untuk kepentingan mereka sendiri, maka dapat dikatakan telah terjadi ketimpangan terhadap tatanan politik tersebut. Dengan kata lain politik tersebut telah bengkok. Karena telah keluar dari idiologi yang sejatinya. 

Ketika kita kembali menapktilasi kekisruhan situasi pada masa orde baru, kita akan menemukan nama yang fenomenal pula dalam dunia kesusastraan, yaitu Wiji Tukul. Bagaimana dia menyuarakan kritiknya terhadap ketimpangan tatanan politik pada rezim tersebut, melaui puisi kehidupan khususnya puisi kritik sosial. 

Contoh Puisi Kehidupan : Kritik Sosial Masyarakat

Puisi seolah menjadi sesuatu yang ditakuti, dan menimbulkan keresahan para oknum-oknum pemerintahan. Dia menjelma menjadi senjata  sakti yang dapat menyelamatkan Indonesia dari kekejaman rezim pada saat itu. Selain itu, gerakan pers juga dibatasi. Maka Seno Gumira mengatakan bahwa “ketika jurnalisme dibungkam maka sastra harus bicara”, hal tersebut menguatkan fungsi sastra secara memdalam. Bahwasanya puisi kehidupan juga berfungsi sebagai wasilah suara keprihatinan dan daya kritis kita terhadap persoalan yang sedang mendera bangsa kita.  

Tengsoe Thahjono mengatakan bahwa, “semakin banyak puisi yang ditulis semakin kuat genderang ditabuh untuk melakukan perlawanan verbal”, yang dalam hal ini adalah perlawanan terhadap tatanan politik yang bengkok.

Berikut ini terdapat beberapa puisi kehidupan yang mengandung kritik sosial:

Puisi Kehidupan Dengan Judul ADA APA DENGAN INDONESIA


ADA APA DENGAN INDONESIA ?
Oleh: Iis Sugiarti

ada apa denganmu, Indonesia?

harga penghidupan naik,
ke langit
kaum kolong bumi terkapar
menanak batu berasap luka
mencipta tawa kaum berada

ada apa denganmu, Indonesia?
katanya bumimu subur
seharusnya rakyatmu makmur
namun kini mereka lekang
terserimpung pelakon politik

ada apa denganmu, Indonesia?
semakin tua umurmu
semakin renta pemerintahanmu
kenapa wakil rakyat alih fungsi
menjala uang dari kantong negeri
lalu berkelit di hadapan hakim
ada apa denganmu, Indonesia?

kenapa kau pincingkan matamu
pada tragedi kesengsaraan rakyat,
yang kini berumah
di bawah payung hitam
sambil memamah sekam

Puisi Kehidupan Dengan Judul "RUHNYA TELAH HILANG"


RUHNYA TELAH HILANG


Apakah benar kau kehilangan idealisme sejatimu?
Sewaktu aku berkunjung kerumahmu dan aku mengenal keluargamu
Kau begitu menggebu menyuarakan pergerakan
Seolah akulah pahlawan kaum tertindas
Akulah penyelamat birokrat
Dengan retorika yang susah kupahami, kucoba mengerti
Aku hanya diam mengamati dan mendengarkan
Mengabulkan doktrinasi yang kau bisikkan
Terlihat kias, untuk mengelabuhi orang-orang yang tak sepanji

DAYA SERIBU WAKTU

Menemui tubuh yang mengkilap dipantul cahaya lampu merah,
di perempatan kota
Kaki yang camping sebelah
Ia tetap punya daya seribu waktu
Berkarib dengan angin, hujan,  panas, dan polusi
Menghalau roda-roda besi yang melintas di pelupuk mata

Walau tuannya mengabaikan seperti angin 
Padahal ia rampas berlian di bawah selimut undang-undang
Ia robohkan tiang-tiang yang sudah keropos digerogoti tikus
Lalu membakarnya di tungku perapian hati

Tubuhnya papa
Tapi jiwanya hidup mengakar sampai kedasar-dasar samudera
Menggamitkan doa yang melangit, menggema ke Arsyi
Mengimami semesta yang dipincangkan despot-despot negeri 

Puisi Kehidupan : PETANI

PETANI

Aku menyemai benih padi dengan cinta
Aku sirami dengan airmata 
Sesampai waktu telah merundukkan bijinya, yang
Memberi isyarat musim pada senja untuk berdoa
Aku petik dengan ani-ani yang diasah dzikir, lalu
Mengupasnya hingga warna mutiaranya 
Menggairahkan senyum bagi burung-burung

Hidup tanahku
Hidup doaku jadi padi
Dari tanah poyang
Yang selalu tumbuh pada mimpi leluhurku

Kini,
Sawahku telah menjadi gedung-gedung
Yang pondasinya dipenuhi butiran airmata
Hingga aku harus mati di lumbung padi
Karena pasar ditumpuk padi dari luar negeri

Aku, petani akan tetap menanam padi
Di jalan raya
Di mall
Di istana presiden
Di gedung-gedung bertingkat
Dan semua yang berada dalam mimpiku
Yang mungkin kutemukan lagi di surga

Baca juga : 

Puisi Kehidupan : JALESVEVA JAYAMAHE

JALESVEVA  JAYAMAHE* )

kubentangkan layar perahuku menyambut angin 
sauh kulempar, siap berlayar membelah laut nusantara
dipandu rasi nujum yang terbentang di langit
berdebur debam jantung lautku mentabik jala doaku, yang 
kulempar barusan
ikan-ikan berdenyaran mengelilingiku
pasukan burung pelikan dari utara melayah menujuku
pesta laut dimulai
“jalesveva jayamahe” 
hidup lautku!
hidup nusantaraku!
hidup moyangku seorang pelaut!

jentera waktu terus berotasi, dengan
segala lika-liku luka lautku
yang dirajah lanun
yang dijarah lanun 
ikan-ikan sekarat
dimabukkan pukat keparat
berton ikan masuk geladak kapal perompak
nusantara kecolongan zona

satu, dua, tiga peledak dilempar
lambung kapal perompak muncrat darahnya
dan kobaran api yang menyembul sampai ke ubun-ubun
namun lautanku terlalu luas
lanun datang dari barat, timur, utara, selatan
mengendap-endap saat halimun pekat

hukum  negaraku belum tegak
undang-undang kemaritimanku tak kunjung menemu nasibnya
padahal lambang jangkar telah terajah di dada nusantara
sedari zaman moyangnya kerajaan 
masih perlukah kita pekikkan 
“jalesveva jayamahe”?

*Jalesveva Jayamahe artinya ialah “di lautan kita berjaya”, digunakan sebagai motto TNI Angkatan Laut (AL).

Sastra sebagai media kritik, secara edukatif dapat memberi penyadaran kepada pembaca atas ketimpangan yang terjadi. Sehingga akan muncul pikiran-pikiran yang solutif dalam memperbaiki suatu tatanan yang timpang tersebut.
Semoga bermanfaat, salam sastra… 

Penulis : Iis Sugiarti 
Pondok Pena, 24 April 2016

loading...
Back To Top